WordPress, Blogger, atau Multiply?
March 3, 2010 information technology
Tren blog mengalami penurunan. Akhir-akhir ini sepertinya aktivis internet, termasuk para dedengkot blog, lebih keranjingan main social media, khususnya Facebook dan Twitter. Blog-blog pun terbengkelai. Apakah blog sudah ada di ujung lifecycle-nya?
Tentu saja tidak begitu. Kalau Anda jeli, ada banyak alasan kenapa blog pantas disebut tren yang abadi. Jadi jika Anda serius membangun brand secara online, sebaiknya tetaplah ngeblog. Atau buatlah blog, bila belum punya. Blog gratisan pun tidak masalah. Tentu saja ada plus-minusnya.
Mari kita flashback sejenak. Di kisaran 2000-an, orang berlomba-lomba bikin website pribadi. Kemudian tren bergeser ke arah blog. Prosedur pembaruan konten yang lebih mudah dari web biasa, serta arsipisasi yang lebih fleksibel ketimbang email, membuat blog cepat menjadi primadona di jagad maya.
Saya yang penasarasan waktu itu segera ikut coba-coba, meskipun tanpa tujuan jelas. Saya pernah menjajal Blogger.com. Pyra Lab, perusahaan di Silicon Valley, sudah sejak Agustus 1999 meluncurkannya. Empat tahun kemudian Google membelinya. Kini Blogger adalah blog engine yang paling banyak digunakan. Mungkin gara-gara pengoperasiannya yang simpel.
Sesudah Blogger, dan setelah singgah di beberapa blog engines lain, saya tiba di Multiply.com. Wow, dalam pandangan saya, inilah blog engine yang paling ramai fitur komunitas dan file sharing-nya. Selain fitur-fitur blog yang standar, di sini kita difasilitasi untuk meresensi produk, membagi-bagikan link, foto, musik, bahkan video.
Namun sistem Multiply tidak ramah terhadap outsider. Kalau saya tidak login, takkan bisa mengomentari postingan atau foto di blog-blog Multiply. Ketertutupan dan eksklusivitas ini khas platform social media. Kalau sedang booming sih terlihat gagah. Tapi ketika mulai ditinggalkan membernya, eksklusivitas semacam ini hanya akan mempercepat kematiannya.
Hampir berbarengan dengan mempelajari Multiply, saya bertamu ke WordPress.org. Kalau Blogger.com dihosting di BlogSpot.com, versi gratisan WordPress.org dihosting di WordPress.com. Namun, (nah, ini kelebihan WordPress) sama seperti DotClear.net (blog engine berbahasa Prancis) atau MovableType.org, blog dengan dukungan perangkat open source dari WordPress bisa diletakkan di server sendiri.
|
|
WordPress.com |
BlogSpot.com |
Multiply.com |
| PPC Script | - | + (AdSense malah difasilitasi) | - (Ada, tapi uangnya diambil Multiply) |
| Template variation |
+ |
+ |
- |
| CSS Modifying |
- |
+ |
- |
| Page (static post) generating |
+ |
- |
+ (terbatas) |
| Stats & tracking system |
+ |
- |
- |
.
Begitulah komparasi tiga blog engine gratisan terpopuler di Indonesia. Tapi jangan berpikir blog engine gratisan hanya tiga itu. Anda bisa mencobai yang lain: BlogDrive, TypePad, Expression, dll. Semua punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. (Brahmanto Anindito)